Berawal dari Puisi

Saya tidak menyangka, ada orang yang bisa mengarang novel setebal 650-an halaman (dalam bahasa Indonesia) hanya dari sebuah puisi. Siapa lagi kalau bukan Dan Brown, dalam novel terakhirnya, Inferno. Inferno sendiri berarti neraka.

Dari puisinya Dante Aliegheri, Inferno, menceritakan tentang tingkatan-tingkatan neraka,yang letaknya di bawah bumi. Bertingkat dari lapisan paling atas, hingga lapisan ke-10 yang ada di pusat bumi untuk manusia dengan dosa paling banyak. Kemudian oleh Michelangelo puisi tersebut diwujudkan dalam sebuah lukisan, sehingga nampak semakin hidup.Diceritakan bahwa pada masa puisi dan lukisan itu dibuat, manusia berbondong-bondong memenuhi gereja untuk bertobat.

Adalah Robert Langdon, yang terbangun dalam keadaan terluka di sebuah rumah sakit, dan dalam keadaan lupa atas apa yang telah terjadi semalam. Dan yang membuat Langdon semakin bingung adalah, dia terbangun bukan di negaranya sendiri, tapi di Italy. Belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, datang seorang perempuan tidak dikenalnya yang ingin membunuhnya, meski kemudian dokter yang menjaganya lah yang terbunuh. Maka Langdon kabur bersama seorang dokter jaga lainnya, perempuan, Sienna Brooks.

Bersama Sienna Brooks itu lah Langdon berusaha menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaannya. Petunjuk yang pertama digunakannya adalah tabung biohazard yang ditemukan oleh Sienna di jaket Langdon semalam ketika datang ke rumah sakit, yang ternyata merupakan proyektor mini, yang apabila dinyalakan menampilkan lukisan Michelangelo tentang nerakanya Dante. Namun dengan sedikit perubahan.

Dan Brown pintar sekali membuat pembaca ingin terus membaca dan membaca, karena alurnya begitu cepat, terlalu banyak kejadian yang harus dicerna, belum lagi istilah-istilah sejarah dan cerita tentang simbol yang diceritakannya. Novel setebal itu hanya menceritakan kejadian 1,5 hari saja. Ancaman pembunuhan, dikejar-kejar polisi, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab membuat cerita dalam buku ini semakin menarik untuk terus disimak, meskipun saya kemudian merasa dibodohi karena dikecoh oleh ceritanya.

Dari gedung-gedung, gereja dan bangunan bersejarah di Italy, Dan Brown membawa pembacanya ke Venesia. Entah kenapa, ketika menceritakan Venesia, saya jadi terbayang pasar apung di Banjarmasin, hihi. Dari Venesia Langdon membawa kita ke Istanbul, dengan masjid dan bangunan muslim lainnya.

Langdon sendiri mengklaim bahwa semua yang diceritakan di dalamnya–kecuali ceritanya sendiri—maksudnya bangunan-bangunan, sejarah, simbol-simbol, kuburan-kuburan, gereja, dan masjid yang diceritakan—berdasarkan fakta. Meskipun setelah saya baca-baca, ada yang menyangkalnya juga, misalnya artikel ini.

Buku bagus, yang layak di baca, dan di tengah kesibukan pekerjaan, saya menghabiskan 6 hari untuk menyelesaikan buku ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s