Seperti Memory Card

Bismillah, ini tulisan pertama saya di bulan Desember. Sudah lama juga ya saya nggak nulis, akhir tahun selalu bisa jadi alasan untuk bersibuk-sibuk ria, meskipun sebenarnya ada faktor malas juga, hehe. Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan salah seorang teman saya, dia bilang kalau gara-gara kesibukannya, dia sampai-sampai gak punya waktu buat dirinya sendiri. Gilak nggak tuh? heheu

Ngomong-ngomong tentang Desember, duuh gimana ya. Saya sih sedih, karena gak terasa setahun ini sudah berlalu. Seingat saya baru beberapa hari yang lalu saya mendengar suara jedar jeder kembang api di malam tahun baru kan, gak kerasa sebentar lagi mau mendengar suara berisik dan macet dimana-mana itu. Tapi bukan karena berisik kembang api sih sebenarnya, ya lebih karena saya merasa belum melakukan apa-apa di tahun ini.

Eh, tapi kalau kata ibu saya, gak boleh ngilang-ngilangin katanya. Setahun ini saya sudah melakukan banyak hal. Buat saya, buat keluarga saya, juga buat negara saya tentunya. Eitss, tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Cerita tentang flashback tahun 2013 ini kita simpan untuk akhir tahun atau awal tahun depan, hehe, karena sekarang saya mau cerita tentang hal yang lain.

Ehm—mulai serius nih. Beberapa hari yang lalu saya pulang kampung a.k.a mudik ke Tegal, kampung halaman saya. Tempat di mana saya kecil dan dibesarkan, heheu. Sebenarnya bukan kejadian yang istimewa, karena saya toh memang sering mudik, ya minimal sebulan sekali lah. Yang membuat mudik kemarin jadi istimewa itu ketika saya tidur di malam harinya. Dingin? kebetulan kampung saya agak gunung sedikit, jadi dingin sudah menjadi hal yang biasa. Banyak suara jangkrik? jelas, karena di belakang dan di samping rumah sawah dan kebun. Suara kodok? tentu, karena sekarang lagi musim tanam, banyak air di sawah. Jadi apa yang istimewa??

Nah, pas saya tidur itu, saya mimpi. Bukan mimpi jorok sih, mimpi biasa aja. Saya mimpi, rasanya seperti mengulang kejadian sewaktu saya SD. Jadi waktu saya SD dulu, untuk menuju ke sekolah saya harus lewat pematang sawah, di mana kita harus hati-hati dalam menjaga keseimbangan tubuh agar tidak jatuh ke lumpur. Sebenarnya ada sih jalan yang lebih layak, tapi harus muter agak jauh, karena kalau kita lewat pematang sawah itu seperti kita melewati garis AC pada segitiga ABC dengan titik B sebagai sudut 90 derajatnya, seperti pada segitiga phytagoras, hehe. Terus di mimpi saya itu saya ke sekolah, bermain sama teman-teman SD saya. Pas pulangnya, saya lewat jalan yang sama dengan jalan–sawah—waktu saya berangkat. Nah kebetulan sawah itu milik kakek nenek saya, jadi sekalian saja saya mampir ikut makan siang, kemudian saya akan bermain lumpur dan naik kerbau yang lagi membajak sawah, tentu saja setelah saya melepas baju putih merah saya. Kemudian selepas bermain di sawah saya akan dimarahi sama ibu saya gara-gara main di sawah, gak pulang dulu ganti baju.

Kejadian seperti itu sering banget saya alami waktu saya SD, karena hampir setiap hari, Senin-Sabtu, aktivitas saya ya seperti itu. Hari Minggu saya akan duduk manis di depan televisi, nonton RCTI dan Indosiar, hehe.

Lalu apa istimewanya mimpi itu pemirsa? saya jadi mikir saja, kenapa saya mesti mengalami mimpi itu ketika saya pulang kampung? Bukan ketika saya di Jakarta? Atau kenapa ketika saya di kampung, saya nggak mimpiin aktivitas saya di tempat lain? Misalnya saja saya mimpi terlambat ngantor dan harus buru-buru ngejar absen?

Setelah saya pikir-pikir, saya menemukan sedikit titik cerahnya. Kadang tempat menyimpan memori, tentang kejadian yang terjadi di tempat itu pada waktu kejadiannya (halah, ribet bgt). Ya intinya tempat itu seperti memory card, dia menyimpan rapi kejadian-kejadian. Kampung saya—bahkan pematang tempat saya berjalan menuju sekolah–menyimpan memori  tentang saya. Rumah saya menyimpan memori tentang saya, dari saya kecil, agak gede, sampai saya gede seperti sekarang ini. Begitu pula dengan kamar kita, kamar mandi kita, ruang tamu, ruang makan, semuanya menyimpan memori tentang kejadian di sana.

Dan entah bagaimana caranya tempat-tempat itu berkonspirasi dengan alam bawah sadar kita, hingga mereka mampu menghadirkannya ke dalam ingatan kita, entah melalui tayangan langsung atau sekedar lewat mimpi. Tayangan langsung? iya, kadang saat kita melihat suatu tempat, kita ingat kejadian-kejadian yang pernah kita alami di tempat itu, seperti melihat bioskop, hanya saja gambarnya ada di benak dan ingatan kita.

Ya, tempat-tempat kadang menyimpan memori tentang kita. Saya tidak tahu apakah ini berhubungan dengan tempat yang katanya angker gara-gara pernah ada kejadian yang tragis yang pernah terjadi di sana. Misalnya, katanya di tangga sekolah SMA saya, suka ada noni-noni Belanda bawa lilin sambil nangis gara-gara dia di bunuh di tangga itu. Mungkin jika itu memang berhubungan dengan konsep memori yang saya uraikan di atas, noni-noni Belanda itu hanyalah memori lawas yang kadang diputar kembali oleh tempat kejadian perkara (TKP). Serem ya …

Tapi saya pernah menonton acara Mister Tukul Jalan-Jalan di Trans7, yang bukan jalan-jalan sih sebenarnya, tapi malah mengunjungi tempat-tempat angker. Nah di salah satu tayangannya, ahli makhluk astralnya mengatakan bahwa tempat-tempat kadang memang sering memutar kembali memori mereka, kejadian-kejadian apa yang pernah terjadi di sana.

Saya jadi ingat, di salah satu Sholat Jumat yang pernah saya ikuti di kantor, salah seorang khotibnya mengatakan bahwa manusia adalah kumpulan waktu. Saat kita baru lahir, waktu kita 1 hari. Lalu waktu terus berjalan hingga kita menjadi 1 tahun, 2 tahun, hingga 20 tahun seperti sekarang (yaah ketauan deh umur saya :p).  Manusia adalah kumpulan waktu, saya sangat setuju. Kemudian saya menambahi teori tersebut dengan waktu menyimpan data/memori tentang kita. Jadi, manusia juga kumpulan data/memori.

Teori tersebut bukan karena kerjaan saya di kantor ngurusin data, heheu. Tapi memang seperti itu adanya. Dan  ternyata bukan cuma manusia yang merupakan kumpulan waktu dan data, begitu juga dengan tempat. Tempat menyimpan memori tentang waktu dan data-data tentang kejadiannya.

Duh saya jadi ingat bukunya Dewi Lestari, Partikel, yang katanya jamur menyimpan memori tentang bumi dari jaman bumi baru terbentuk hingga sekarang. Tapi sudahlah, tidak perlu kita bahas sekarang, nanti postingan ini tentang panjang.

Jadi, mari kita hargai, hormati tempat, karena dia menyimpan memori tentang kita. Tinggalkan kenangan yang bagus buatnya, karena suatu ketika dia akan kembali memutarkan memori itu, entah untuk kita sendiri, atau untuk orang lain.

———————————————————————————

Bintaro, 7 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s