Number One For Me

Ya, judul tulisan ini sengaja saya samakan dengan judul lagunya Mas—ciyaa mas—Maher Zain, number one for me. Siapa lagi kalau bukan tentang ibu kita. Entah kenapa belakangan ini saya makin sering kangen sama ibu saya, mungkin karena sudah lama saya gak pulang dan mencium tangan beliau. Saya selalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatannya, semoga Allah mengaminkan doa saya, amin.

There’s no one in this world that can take your place

begitu kata Mas Maher. memang gak ada seorang pun yang bisa menggantikan kedudukan ibu kita ya. Seberapa nakal pun kita waktu kecil, seberapa bandel pun kita waktu kecil, ibu selalu punya alasan untuk memaafkan kita. Bahkan sekarang, saat kita telah tumbuh dewasa, saat tanpa kita sadari perilaku kita telah menyakiti hatinya, ibu masih tetap punya alasan untuk memaafkan kita.

Oh, if I could turn back time rewind
If I could make it undone
I swear that I would
I would make it up to you
Mum I’m all grown up now
It’s a brand new day
I’d like to put a smile on your face every day
Mum I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face every day

tambah mas Maher dalam lirik lagunya itu.

untuk lengkapnya, monggo video clip lagu number one for me bisa dilihat di mari :

Fahd Djibran sendiri dalam bukunya Perjalanan Rasa, seperti yang sudah pernah saya posting sebelumnya mengatakan, rasanya sudah cukup alasan bagi ibu kita untuk mengutuk kita menjadi batu, tapi ibu kita tidak pernah melakukan itu.

Ngomong-ngomong tentang ibu, biasanya kita punya ikatan khusus kepada ibu kita. katanya sih karena dulu pernah satu badan, jadi meskipun telah terpisah, biasanya ikatan itu tetap ada. Kalau ibu saya sakit, bisanya saya punya perasaan yang kurang enak, apakah was-was, deg-degan, atau perasaan yang lain yang membuat saya tidak tenang. Pernah juga saya merasa ada orang yang memanggil-manggil nama saya di jalan, tapi orangnya ternyata gak ada, dan itu tidak hanya terjadi sekali, tapi beberapa kali.

Lain ibu, lain pula cerita tentang nenek. Kalau nenek saya sakit, biasanya saya memimpikan beliau. Meski di mimpi itu beliau tidak sedang sakit. Sebenarnya hubungan saya dengan nenek saya tidak terlalu dekat, mengingat cucunya yang banyak, jadi hubungan personal kami ya sebatas nenek dan cucu, tidak ada sesi curhat-curhatan, hehe, beda dengan ibu yang kadang tanpa saya cerita pun beliau tau perasaan hati saya. Tapi karena nenek itu adalah ibunya ibu kita, jadi mungkin masih ada ikatan garis lurus satu derajat, hehe.

Berbeda juga dengan coretan pohon —bukan dalam blognya, tapi quote ini saya dengar langsung dari orangnya—katanya ikatannya lebih kuat ke bapaknya. Kalau bapaknya sakit, katanya dia memimpikan itu di tidurnya, sementara kalau ibunya sakit, dia bakalan ikut sakit.

Ya, setiap orang punya ekspresi ikatan sendiri terhadap ibunya. Setiap kali saya menelepon ibu saya, hal pertama yang beliau tanyakan selalu ‘sudah makan belum nak?’ atau ‘kamu sehat nak?’. Ibu saya selalu cerewet soal kesehatan dan makanan, karena beliau tau saya agak susah makan, dan setiap kali pulang, gantian saya yang akan mencerewetinya tentang makannya yang sedikit  dan kadang ‘seadanya’.

Oh ibu, andai saja waktu bisa aku putar kembali, mungkin aku akan bersikap lebih baik. Doaku akan selalu sama ibu, semoga Allah memberikan kesehatan dan keberkahan untukmu, amin …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s