Serambi Mekah dan Sisa-sisa Tsunami

Saya memang agak melow orangnya, terutama jika menghadapi situasi-situasi yang sentimentil atau melihat kondisi yang membuat hati saya terenyuh. Nggak mesti menitikkan air mata sih, kadang saya merasa pengen nangis saja 🙂

Beberapa hari yang lalu, karena suatu pekerjaan saya harus pergi ke Aceh, tepatnya ke Banda Aceh bersama dua orang atasan saya di kantor. Satu saja sih atasan sayanya, satunya lagi atasan orang lain, cuma pejabat juga, jadi tetap bos saya.

Di sela-sela pekerjaan itu, saya sempat diajak berkeliling kota Banda Aceh oleh panitia. Melihat-lihat kota, dan juga mencicipi kuliner khas sana. Banda Aceh tetaplah Banda Aceh, baik sebelum maupun setelah Tsunami.  Orangnya tetap ramah, kopinya tetap enak, dan mie-nya juga enak. 😀

Pertama kali merasakan kopi di sana, adalah di kedai kopi di depan hotel tempat kami menginap. Ada kedai kopi namanya e-kupi. Orang sana memang menyebut kopi sebagai kupi (mungkin karena memang bahasa sananya kopi adalah kupi). Sementara e- adalah singkatan serupa seperti pada kata e-mail atau e-payment atau e-toll, dsb; yaitu elektronik. Ya, mungkin maksudnya itu. Karena bukan hanya kedai tempat minum kopi, tapi di sana juga menyediakan makanan, jajanan, dengan fasilitas hotspot gratis. Pantas saja di sana tidak ada 711 atau tempat nongkrong sejenis lainnya seperti di Jakarta.

Dan mau tau kesan saya terhadap kopi pertama yang saya minum di Aceh? ENAK BANGET! Belum pernah saya minum kopi seenak itu. Kopi yang saya pesan pertama kopi susu. Saya pikir tidak akan berbeda dari kopi susu yang biasa saya pesan di warung kopi Amigos (agak minggir got sedikit) di dekat tempat tinggal saya, tapi ternyata memang berbeda sekali rasanya. Entah kopinya, entah susunya yang membuat rasanya menjadi enak. Tapi kalau menurut orang sana sih memang kopinya yang enak. Dan itu kemudian saya buktikan dengan kopi-kopi yang saya minum berikutnya, enak semua. Ada kopi sanger, maupun jenis kopi yang lainnya (saya lupa namanya).

IMG_20130903_201515_1

Ngomong-ngomong tentang kedai kopi, di Aceh, hampir di sepanjang jalan bisa kita temukan kedai kopi. Orang sana memang gemar minum kopi. Setelah saya amati, memang ya, nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nggak malam, kedai kopi itu selalu rame sama orang-orang yang berkumpul minum kopi. Saya kemudian jadi ingat salah satu bukunya Andrea Hirata, Dwilogi Padang Bulan, yang bercerita bahwa di Belitung sana orang-orang juga gemar meminum kopi. Ternyata kopi di Aceh bukan lagi berada pada tataran gaya hidup, tapi semacam kebutuhan hidup.

Selain kopi, mie–kita mengenalnya sebagai Mie Aceh, sementara di sana di sebut mie saja–di sana juga enak. Pilihan menunya ada mie goreng, mie rebus, maupun mie basah. Mie goreng adalah mie goreng sebagaimana biasanya, sedangkan mie rebus adalah mie yang direbus dengan banyak kuah, sementara mie basah kuahnya hanya sedikit. Saya mencoba ketiga-tiganya, dan rasanya memang enak. Mie Aceh Bang Jali (kalau tidak salah) di Jakarta yang katanya paling enak, menurut saya jauh. Pokoknya top markotop makan mie aceh di tempat asalnya.

Oke, kembali ke cerita jalan-jalan di sana.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah masjid Raya Aceh. Masjid ini sudah terkenal, bahkan sebelum Tsunami. Masjid ini berdiri megah tepat di tengah kota Banda Aceh. Bisa dikatakan bahwa masjid ini adalah pusat dari kota Banda Aceh. Gambar

Masjid ini berdiri kokoh dan indah. Banyak orang yang berdatangan, baik untuk beribawah maupun sekedar berwisata. Saya sempat melihat foto masjid ini saat terjadi bencana Tsunami, di pelatarannya banyak lumpur dan sampah bawaan banjir. Dan subhanallah, masjid ini adalah salah satu masjid yang tidak hancur, meskipun sebenarnya ada lagi satu masjid yang letaknya lebih dekat dengan laut, namun juga tidak hancur.

Di bawah ini adalah foto Masjid Raya Aceh, atau nama aslinya adalah Masjid Raya Baiturrahman pada saat terjadi bencana tsunami

Gambar

foto saya ambilkan dari http://walet.org/index.php?topic=241.150

sementara masjid yang lebih dekat posisinya ke sumber gempa adalah

Gambar

foto saya ambilkan dari http://jurnalibukota.wordpress.com/2012/11/12/mdf-dan-jrf-jadi-contoh-dalam-pemulihan-bencana-akibat-tsunami/

Aceh adalah negeri yang hebat. Orang-orangnya adalah orang hebat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana caranya orang Aceh terlepas atau sembuh dari trauma bencana sedahsyat Tsunami.

Saya sempat menanyakan hal itu kepada teman saya, Fakhrurrazi, orang Aceh, yang mengalami langsung bencana Tsunami itu, dan dia menjawab, satu-satunya cara agar sembuh dari trauma Tsunami adalah dengan cara melupakannya. Jawaban itu membuat saya merenung, seandainya saya jadi orang Aceh yang mengalami langsung bencana Tsunami, bagaimana mungkin saya bisa lupa akan bencana sedahsyat itu sementara setiap hari saya harus tinggal di sana, melihat tempat di mana bencana itu pernah terjadi.

Kota Banda Aceh bisa cepat pulih dari bencana, tentu saja tidak terlepas dari bantuan luar negeri dan pemerintah. Memang sangat terasa sekali perbedaannya, meskipun saya tidak pernah ke Aceh sebelum tsunami terjadi. Sekarang, jalan raya di sana (kalau bisa disebut jalan protokol) merupakan jalan baru dengan ukuran yang lebih besar. Rumah-rumah dan gedung-gedung terlihat baru dan lebih kokoh, serta dibuat tahan gempa. Ya, mungkin itu salah satu hikmah dari bencana, kita akan selalu mempersiapkan segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Tempat berikutnya yang saya kunjungi adalah PLTD Apung. Kapal ini dibuat di Batam pada tahun 2003, dan belum ada setahun dioperasikan di laut banda. Dan pada saat tsunami terjadi, kapal ini terlempar jauh ke tengah pemukiman warga, lebih kurang sekitar 5-6 km.

Gambar

Bisa kita bayangkan, kapal segede ini bisa terlempar sejauh itu. Menurut http://sejarah.kompasiana.com/2013/01/10/pltd-apung-saksi-bisu-kedahsyatan-tsunami-aceh-518378.html, kapal berbobot 2.600 ton dengan panjang 63 m itu pada saat kejadian sedang berlabuh di Pelabuhan Ulee Lheue. Sekarang tempat tersebut sudah menjadi tempat wisata, dan bagian dalam kapal dijadikan museum.

Kami juga sempat melihat Pelabuhan Ulee Lheue, dimana di sini adalah lokasi terluar di pulau Sumatera, atau bisa dikatakan ujung pulau Sumatera. Dari sini akan terlihat pulau Sabang. Saya baru ngeh kenapa ada lagu ‘Dari Sabang Sampai Merauke’, ternyata memang itu ujung kiri pulau di peta Indonesia, hehe.Gambar

Saya belajar banyak dari perjalanan saya kali ini. Tidak hanya tentang budaya dan kulinernya yang khas, tapi juga tentang bagaimana bencana bisa terjadi kapanpun, tanpa pernah kita duga sebelumnya…

Pada akhirnya waktu jalan-jalan berakhir, dan kami harus melanjutkan lagi pekerjaan kami di sana … 🙂

Terimakasih untuk jalan-jalan dan pelajaran yang saya terima, Aceh …

Advertisements

3 thoughts on “Serambi Mekah dan Sisa-sisa Tsunami

  1. Evi

    Serasa ikut jalan2 ke Aceh membaca catatan ini. Ngomong2 soal melupakan bencana tsunami, apakah orang Aceh benar melupakan atau berusa berdamai dng kepahitan yg ditinggalkan nya. Sebuah pertanyaan yg menggantung dlm pikiran saya

    Like

    Reply
  2. Nasikhudin Post author

    iya mba, saya juga gak ngerti gimana seandainya saya jadi mereka. Pertanyaan itu juga muncul ketika saya di sana, menurut teman saya itu, pada akhirnya mereka harus pura-pura lupa agar tidak selalu merasa sedih. Pertanyaan yang juga muncul di benak saya adalah, kenapa harus Aceh?

    Like

    Reply
  3. Pingback: Kaleidoskop 2013 (Bagian 1.3) | WALK THE WALK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s