Celotehan Malam (23)

JANGAN pernah menunda perbuatan baik (ibu saya, suatu ketika)

Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, saya akan melewati sebuah perempatan kecil. Bukan perempatan yang ramai dengan lampu merah, hanya perempatan biasa, tanpa lampu merah. Di perempatan itu saya biasa melihat seorang ibu paruh baya, dari penampilan dan peralatan di sekelilingnya saya tau ibu ini adalah seorang pemulung. Beberapa plastik besar sebagai tempat mengumpulkan sampah dan sebuah gancu selalu tersedia di sampingnya.

Hampir setiap pagi saya melihat ibu ini sedang duduk, menatap nanar dengan wajah agak muram. Antara menanggung beban hidup yang (mungkin) berat baginya, atau menahan lapar karena tidak bertemu makanan sejak kemarin. Ibu ini tidak duduk sendiri, dia bersama tiga orang anaknya yang masih kecil semua. Mereka hanya berempat, tanpa seorang ayah karena saya tidak melihat ada laki-laki dewasa di sana.

Pemandangan saya setiap pagi.
Entah kenapa setiap melewati ibu ini, saya selalu nggerentes (berkata dalam hati), kasihan sekali ibu ini dan keluarganya. Saya kadang ingin berhenti sekedar memberikan uang buat sarapan, tetapi takut ibu ini tersinggung. Beberapa kali saya mengurungkan niat saya itu.

Sampai pada Jumat kemarin, saya melihat ibu itu sepertinya sedang menderita sakit. Muka pucat, mata sedikit berair, dan wajah yang semakin tirus dan memancarkan aura orang sakit. Saya pun teringat bahwa di dalam dompet, saya masih menyimpan uang lima puluh ribu rupiah. Tapi kemudian saya menimbang-nimbang bahwa uang ini adalah uang terakhir saya. Saya masih harus membeli sarapan dan makan siang. Jika uang ini saya berikan kepada ibu tersebut, saya harus ke ATM untuk mengambil uang tunai, yang mana saya agak malas melakukannya. Saya pun urung memberikan lima puluh ribu tersebut kepada ibu pemulung. Namun dalam hati kecil saya mengatakan, besok Senin saya akan memberikan uang kepada ibu itu.

Begitu Senin pagi datang, saya sudah menyiapkan uang di dompet saya yang akan saya berikan kepada ibu pemulung tersebut. Sudah saya bayangkan ekspresi kebahagiaan ibu itu menerima uang tersebut untuk membeli sarapan. Tetapi apa yang terjadi? Ibu pemulung tersebut tidak ada di tempatnya. Perempatan itu sepi, tanpa ibu pemulung dan keluarganya.

Saya mengutuk diri sendiri. Bodoh sekali saya yang terlalu egois hanya karena memikirkan sarapan sendiri sampai lupa pada penderitaan orang lain. Benar sekali yang dikatakan ibu saya, jangan pernah menunda berbuat baik, karena pada dasarnya kesempatan tidak akan datang dua kali.

Semoga bisa dijadikan pelajaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s