Tentang Mama, Ibu kita

Pagi ini saya terbangun di tengah-tengah tidur saya gara-gara teriakan penghuni kost lain yang tengah menonton pertandingan sepak bola. Ah, mereka memang suka gak mikir kalau mau teriak-teriak pagi-pagi buta begini. Tapi tak apalah, terserah mereka, toh mulut-mulut mereka juga, hehe. Akhirnya saya mencoba menyalakan laptop alih-alih marah-marah kepada mereka.

Kemarin seorang yang baik hati baru saja mengembalikan buku saya yang dia pinjam. Sebuah buku bagus karangan Fahd Djibran, Perjalanan Rasa. Iseng-iseng saya buka beberapa halaman pertama buku itu, judulnya Mama. Intinya menceritakan penyesalan Fahd tentang kenakalan remajanya kepada mama-nya. Berikut saya petikkan beberapa paragraf yang menurut saya bagus dan ‘mengena’ juga buat diri saya:

Waktu itu, entah kebohongan keberapa yang kuucapkan kepadamu, Ma. Sejak Mama menjadi orang pertama di dunia yang kubohongi: mungkin tak terhitung lagi. Mamalah yang pertama kali mengajariku berkata-kata, tapi Mama jugalah orang pertama di dunia yang kusakiti dengan kata-kataku sendiri.

Mama…, Mama. Mama selalu mencintaiku seolah tak ada lagi waktu di dunia selain untuk membahagiakanku, sementara aku hanya bisa mengaku-ngaku mencintaimu dan ingin membahagiakanmu. Kenyataannya, tak! Aku tak pernah bisa membuktikan semuanya Ma. Tak seperti cinta Mama padaku, kenyataannya aku tak pernah bersungguh-sungguh ingin membahagiakanmu–

Ah, Mama seharusnya sudah cukup semua alasan untukmu mengutukku menjadi batu. Terlalu banyak pengkhianatan yang kurahasiakan–hal-hal yang barangkali terlalu buruk untuk kuceritakan padamu–semua yang kudustakan dari rasa cinta dan rasa percayamu: Dosa-dosaku yang menggagalkan doa-doa sucimu.

Sementara usiaku ditumbuhkan kasih sayangmu, nyawaku disambung tangis dan keringatmu, hidupku diselamatkan oleh doa-doa sucimu, tak akan pernah cukup meski kugadaikan seluruh hidupku untuk membalas cintamu.

Maka kata apakah yang lebih agung dan mulia dari ‘terima kasih’ dan ‘maaf’? Ajarilah aku kata itu, sekali lagi, Mama: aku ingin mengucapkannya dengan tulus dan sungguh-sungguh untukmu. Hanya untukmu.

Benar-benar tulisan yang sangat mengena. Saya sedikit meringis membaca paragraf-paragraf di atas, merasa sangat tertampar. Apa yang saya lakukan selama ini masih jauh dari kata ‘berbuat baik’ atau ‘berbakti’ kepada ibu saya. Meneleponnya tiga hari sekali pun kadang saya kelupaan. Maafkan saya ibu. Saya sering kelupaan mendoakannya selepas sholat, karena doa-doa saya terlalu congkak, hanya mengingat diri sendiri dan masa depan sendiri. Saya sering lupa menyematkan namanya, meski hanya sekali dalam doa-doa yang saya lantun. Padahal saya tau dengan pasti, disetiap doa yang dia rapalkan setiap malamnya, ada nama saya yang disebutnya berulang-ulang.

Ibu, benar kata Fahd Djibran. Ajarkan lagi saya kata ‘terima kasih’ dan ‘maaf’. Terima kasih untuk hal-hal yang memang sudah sepantasnya saya mengucapkan terima kasih kepadamu, dan maafkan kesalahan yang selama ini saya tau itu sebuah kesalahan, tapi terus menerus saya lakukan. Maafkan anakmu ini, ….

————————————————————
Bintaro, 11 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s