Menyatu dengan Alam di Curug Nangka

ENAM Juni 2011 lalu saya bersama empat orang teman saya pernah melakukan perjalanan mendadak yang lumayan mengesankan. Sebenarnya bukan kali ini saja perjalanan mendadak kami, karena hampir setiap punya rencana traveling seringnya tidak terencana alias ujug-ujug. Siang itu salah satu teman saya, Ajo, mengajak saya ikut ke Bogor. Padahal siang itu saya sedang ada di Bandung. Saat itu rencananya hanya ke Bogor saja, dan ternyata sudah ada tiga orang teman yang lain yang juga akan bergabung: Randy, Surya, dan Ozi. Karena kebetulan mas Randy ada mobil, pergilah mereka berempat menggunakan mobilnya pada sore hari dari Bintaro menuju Bogor, sedang saya berangkat dari Bandung dan harus menemui mereka di Botani Square sekitar lepas maghrib.

Sekitar jam 7 malam kami berangkat dari kota Bogor menuju Curug Nangka. Saat itu saya tidak tau mas Randy membawa mobilnya ke arah mana, karena saya hanya ikut saja plus ketiduran selama perjalanan. Ternyata dua jam kemudian kami sudah tiba di sebuah tempat tinggi, sangat dingin, suara jangkrik melengking, suara air sungai menderu, dan suara angin berhembus agak kencang, karena memang waktu itu memang sedang musim kemarau. Ternyata kami berada di lokasi wisata Curug Nangka. Curug Nangka–setelah saya cari tau, terletak di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Untuk mencapainya kami melewati jalanan kecil menanjak yang berbelok-belok karena banyak tikungan.

Curug—merupakan bahasa Sunda yang berarti air terjun. Jadi sebenarnya Curug Nangka merupakan air terjun yang bernama Nangka. Curug Nangka biasanya disingkat menjadi Cunang. Malam itu rencananya kami akan menyewa tenda dan tidur di dalam tenda. Namun karena tidak ada tempat penyewaan tenda dan kebetulan ada warung yang menyediakan tempat menginap, kami pun menginap di warung itu.

Bangunannya bukan dari bata atau beton, tetapi dari anyaman bambu. Warung tersebut bisa disebut rumah panggung yang dipasang secara paksa di tepian sungai, karena tepat di belakang warung tersebut mengalir sungai yang entah apa namanya. Mengalir deras dan suaranya menemani tidur kami sepanjang malam yang dingin. Dingin sekali. Sudah menggunakan baju beberapa lapis plus jaket, tetap saja dingin. Tidak terbayang seandainya kami jadi menyewa tenda dan tidur di dalamnya.

Malam berlalu, pagi harinya kami harus melakukan sedikit tracking untuk menuju air terjun. Pemandangan lumayan indah, dengan pohon jati di sepanjang jalan. Kadang kami harus melewati tebing, kadang harus melompat diantara bebatuan sungai, hingga mas Randy pun pernah sekali terjatuh hingga kameranya membentur batu. Untung tidak rusak. Berikut ini beberapa foto yang bisa saya temukan diantara file foto-foto saya:

IMG00821-20110606-0645

IMG00824-20110606-0646

IMG00825-20110606-0659

IMG00826-20110606-0659

IMG00827-20110606-0756

IMG00828-20110606-0757

IMG00830-20110606-0758

IMG00831-20110606-0758

IMG00834-20110606-0759

 

 


Suatu Senja di Ancol

SEJAUH yang saya ketahui, satu-satunya pantai yang dimiliki kota Jakarta hanya Ancol saja. Kepulauan Seribu bukan punya kota Jakarta, tapi punya DKI Jakarta sebagai sebuah provinsi. Jakarta bukanlah Phuket yang pantainya bisa kita temui dengan mudah, bahkan di belakang hotel tempat kita menginap sekali pun. Jakarta bukanlah Bali atau Lombok yang pantainya banyak, meski kotor dan tidak terawat. Jakarta adalah Jakarta. Kota metropolis yang manusianya bergerak cepat dari subuh sampai ke subuh lagi. Dan, Ancol, meski bibir pantainya pun tidak ada, adalah pantai yang layak dikunjungi di Jakarta.

Terletak di bagian barat kota Jakarta, Ancol sebenarnya bukanlah pantai yang ideal sebagaimana pantai pada umumnya. Bibir pantainya tidak jelas. Pun pengelolaannya yang dilakukan oleh pihak swasta, sehingga tiket masuknya lumayan mahal untuk tempat wisata berupa pantai. Pantas saja pada tahun 2013 pernah menjadi kontroversi mengenai tiket masuk Ancol yang mahal ini. Meski menuai kontroversi, toh Ancol tetap ramai dikunjungi masyarakat Jakarta. Karena masyarakat butuh tempat hiburan berupa pantai.

Saya pribadi senang mengunjungi Ancol saat senja. Sebenarnya tidak cuma Ancol, pantai manapun pasti indah saat senja. Plus saat malam, karena Ancol bisa dikatakan dikelilingi gedung-gedung, sehingga menambah suasana indahnya di malam hari.

IMG01225-20110816-1735  IMG01217-20110816-1728

IMG01220-20110816-1730  IMG01222-20110816-1733

 

Karena dekat dengan kota, wisata pantai Ancol juga menghadirkan banyak pilihan tempat makan yang harganya di atas rata-rata. Tempat makan favorit saya dan teman-teman saya adalah Bandar Djakarta, tempat makan seafood dengan menu yang bisa kita beli langsung di pasar ikan-nya dan bisa kita pesan mau dimasak seperti apa. Sebenarnya bukan konsep restoran seafood yang baru, karena kalau kita makan di Pantai Depok di Jogja pun sudah memiliki konsep yang sama, bahkan pasar ikannya benar-benar TPI (Tempat Pelelangan Ikan).

ancol_3

ancol_6

Pademangan-20120316-00911

Yaah, karena pada dasarnya saya suka pantai, Ancol kadang menjadi alternatif saya saat kangen dengan pantai. Mari ke Ancol.

——————————————————————-

foto-foto oleh Randy, Surya, dan Zaki.


Pada Garis-Garis Batas

MANUSIA sering kali mengkotak-kotakkan diri, mengelilingi diri sendiri dengan garis-garis maya sebagai pembatas: garis batas. Manusia mengelompok-kelompokkan diri ke dalam komunitas-komunitas tertentu. Lihat saja smartphone kita saat ini, terutama di aplikasi pengolah pesan. Ada berapa grup yang kita bergabung ke dalamnya? Grup keluarga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman kerja, kelompok penyuka shopping, dst, dst. Semuanya membatasi kita ke dalam kotak.

Garis batas kadang memberikan manusia identitas. Garis batas kelompok penyuka shopping memberikan identitas sebagai kaum hedon yang suka menghamburkan uang. Garis batas kelompok penyuka buku filsafat memberikan identitas sebagai kaum intelektual, meski kadang yang timbul justru identitas kaum cupu. Meski kadang yang terjadi justru sebaliknya. Identitaslah yang mengkotak-kotakkan manusia ke dalam garis batas. Identitas kulit putih akan mengkotakkan manusia ke dalam garis batas dari kulit hitam. Begitulah garis batas dan identitas, kadang saling tindih hingga tak jelas siapa yang sebenarnya menyebabkan mereka.

Garis batas merupakan zona aman manusia. Ketika manusia melintasi garis batasnya dan masuk ke dalam garis batas orang lain, ia melewati zona aman, ia akan merasa terancam. Garis batas kadang menyelamatkan, meski kadang garis batas juga yang dalam sejarah telah menyebabkan banyak korban: warna kulit, agama, politik, pendidikan, DNA, dan lain-lain. Garis batas adalah garis tak kasat mata namun nyata. Ia ada, dan sangat diakui. Tuhan memberikan garis batas antara Adam-Hawa dan Iblis. Kita menciptakan garis batas kita sendiri.

Garis batas adalah kodrat yang juga memberikan variasi sejarah pada kehidupan manusia. Garis batas adalah manusia itu sendiri.

————————————————–

terinspirasi oleh karya Agustinus Wibowo: Garis Batas


Tentang Cinta Sejati

TEMPAT belajar saat kita masih kecil adalah keluarga, baik keluarga dalam skup kecil maupun dalam skup yang luas. Dan ternyata keluarga pada praktiknya bukan hanya tempat belajar saat kita kecil saja, tetapi bahkan saat kita sudah dewasa dan menua. Keluarga adalah tempat belajar semua hal, tentang kasih sayang, tentang kebersamaan, pengorbanan, komitmen, bahkan tentang cinta.

Sewaktu kakek saya meninggal dunia, nenek adalah orang yang paling merasa kehilangan. Beliau menangis setiap hari, tersedu-sedu tak henti-henti. Setiap malam, saat kami semua terlelap tidur, nenek menangis sendirian. Tangisan nenek terus terdengar setiap hari setiap malam, bahkan hingga memperingati 40 hari meninggalnya kakek, nenek masih terus menangis. Saat lebaran kemarin pun yang notabene sudah berbulan-bulan sejak kakek meninggal, nenek masih menangis tersedu-sedu saat mengingat tentang kakek.

Bukan tentang tangisan neneknya, saya menyoroti perasaan kehilangan yang diungkapkan nenek lewat tangisannya. Kakek saya meninggal dalam usia 72 tahun, saya mengira-ira usia pernikahan mereka sudah lebih dari 50 tahun yang lalu, mengingat dari kakek dan nenek itu sudah lahir ayah saya yang usianya lebih dari  50 tahun saat ini. Ada rasa kehilangan yang amat sangat mendalam yang dialami nenek saya. Saya sendiri ikut menangis jika mendengar nenek tersedu-sedu, berusaha menutupi tangisannya saat malam namun tak kuasa. Ada rasa sedih yang tak terperi di balik sedu sedannya. Ada rasa getun yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Lalu saya mencoba mengingat-ingat bagaimana hubungan atau kemesraan kakek dan nenek saya. Kakek saya orang yang cerdas. Bahkan di akhir masa hidupnya, meskipun dalam kondisi sakit, kakek masih bisa berdiskusi tentang pajak dan tentang pekerjaan saya ketika saya datang menjenguknya. Masih menanyakan bagaimana hubungan saya dengan atasan saya atau rekan-rekan satu kantor saya. Masih menanyakan bagaimana pola karir dan masa depan karir saya, dan masih menyampaikan wejangan-wejangannya yang sebenarnya saya sudah hafal di luar kepala, karena itu yang selalu disampaikannya kepada saya. Kakek bukanlah tipikal orang romantis melankolis. Kakek adalah orang yang tegas. Saya menyebutnya tegas karena jika ada keinginan yang tidak terpenuhi, kakek akan marah. Kakek juga hampir tidak pernah menyatakan rasa sayangnya kepada nenek. Begitu juga nenek, bukanlah tipe wanita manja yang suka bergelayutan kepada suaminya. Bahkan sebenarnya nenek sering memarahi kakek di masa sakitnya, karena mungkin dipikirnya kakek sangat rewel. Tetapi saya tahu, jauh di lubuk hatinya, rasa cinta nenek kepada kakek dalam membekas di sana.

Rasa cinta yang didasari rasa kagum kepada sosok kakek, yang telah selama itu hidup bersama dirinya. Rasa sayang yang tumbuh (mungkin karena keterpaksaan pada awalnya) dengan tulus seiring kebersamaan mereka. Rasa cinta dan sayang itu kemudian melahirkan rasa patuh dan ketakutan untuk berpisah, bahkan karena ajal sekalipun. Mungkin itu yang bisa saya terjemahkan dari setiap sedu sedan yang saya dengar di malam hari, saat nenek mengingat hal-hal tentang kakek.

Saya menyebut ini cinta sejati.

Saya pernah mencoba mengajak nenek untuk tinggal bersama ibu dan ayah saya di rumah kami, agar lebih dekat mengurusnya. Nenek saya menolak ajakan saya setiap kali saya mengutarakan ajakan itu. Alasannya selalu sama: nanti kalau kakekmu nengokin rumah ini terus nenek gak ada, pasti kakek kecewa! Saya pun tidak bisa memaksa nenek untuk melupakan kakek dengan meninggalkan rumah yang sudah menjadi kenangan kebersamaan mereka selama lebih dari setengah abad lamanya. Saya tidak bisa memisahkan cinta sejati, yang bahkan sudah dipisahkan oleh takdir: kematian.

Seandainya saya jadi nenek, sepertinya saya tidak kuat untuk tinggal di rumah itu. Bagaimana saya bisa bertahan jika setiap sudut dan setiap bagian dari rumah yang kita tinggali mengingatkan kita pada sosok yang paling kita cintai di hidup kita. Tapi ternyata cinta nenek kepada kakek bukanlah pilihan. Nenek akan mencintai kakek, bahkan di saat kebersamaan keduanya dipisahkan oleh maut.

Mungkin jika saya bertanya kepada nenek: nek, kenapa nenek begitu cinta dan sayang kepada kakek? nenek saya akan menjawab tidak tahu. Karena katanya cinta sejati adalah ketika kita tidak punya alasan mengapa kita mencintai seseorang.

Terima kasih untuk pelajaran tentang cinta dan ketulusan ini, Nek!


Celotehan Malam (20)

TEMPAT dan orang-orang tertentu bagi saya adalah lorong waktu. Kampung saya, gedung sekolah SD saya, sungai di dekat rumah, rumah nenek, rumah ibu saya, bahkan nenek dan ibu saya sendiri adalah lorong waktu bagi saya. Melalui mereka seolah saya bisa melihat masa lalu saya. Di halaman rumah nenek, saya ingat betul dulu bermain gobak sodor bersama kakak dan teman-teman seusia saya terutama saat bulan purnama. Di rumah itu pula saya mengenal pahlawan-pahlawan kecil saya: power rangers, kura-kura ninja, jiban, kabuto, dll. Melihat wajah dan mata nenek, saya ingat dulu sering diajak ke pasar, kemudian dititipkan di salah satu pedagang sementara beliau berkeliling berbelanja, lalu kemudian pulangnya saya akan diajak makan lontong sayur di pojokan pasar yang becek dan bau, namun lontongnya enak.

Melalui jalan-jalan di kampung, saya ingat dulu sering berlarian di sana. Saya hafal sekali jalan kecil di samping sungai yang curam, dan biasa kami pakai untuk main prosotan. Saya ingat di sungai itu dulu sering mandi, telanjang dada dan telanjang kaki tanpa memikirkan rasa malu. Saya ingat di sungai itu setiap hari Minggu mencuci sepatu sekolah saya yang hanya satu-satunya, setelah dicuci harus saya jemur di batu besar dan saya tunggui sampai kering sambil bermain air di sungai. Pematang sawah itu adalah sejarah, tempat kami dulu biasa lewat setiap kali akan berangkat sekolah. Tak jarang salah satu diantara kami akan terperosok ke sawah yang berlumpur akibat kurang hati-hati atau karena memang pematangnya sedang licin. Sawah itu adalah saksi, tempat dulu sepulang sekolah saya bersama kakek menaiki kerbau yang sedang membajak sawah, lalu sepulang dari sawah saya akan dimarahi ibu karena mengotori baju sekolah.

Melalui rumah ibu, saya ingat sekali lemari-lemari itu dulu menjadi saksi saya bermain petak umpet bersama kakak dan adik-adik saya. Pintu-pintu itu dulu menjadi saksi tempat kami berlarian, berkejaran satu sama lain tanpa memikirkan masalah apapun. Kamar tidur itu dulu tempat kami bertiga tidur setelah lelah bermain, bahkan kamar mandi itu pun menjadi saksi, tempat kami dulu harus mengundi siapa yang akan memenuhi bak mandi itu dengan menimba air dari sumur. Melalui mata ibu saya, saya seolah bisa melihat masa kecil saya yang bahagia. Saya melihat masa lalu saya dan adik-adik saya yang ringan dan tanpa beban. Melalui mata ayah saya, saya bisa melihat daftar mainan ketika kami kecil dulu: robot-robotan dengan baterai besar yang cepat rusak, mobil-mobilan warna merah yang rodanya terus-terusan lepas, patung tentara, alat musik, sepatu kami yang berbunyi jika diinjak dan menyala jika gelap, baju kami bertiga yang senantiasa sama setiap lebaran, dan tentu saja pilus ganepo kesukaan ayah saya yang kemudian menjadi kesukaan kami semua.

Pulang kampung adalah perjalanan saya mengarungi lorong waktu. Perjalanan saya mengingat kembali masa lalu yang bagi saya itu adalah hal yang sangat indah. Lorong waktu itu kadang terbuka, kadang tertutup. Karena meski sering melihatnya, saya tidak selalu ingat masa lalu. Kadang saya harus menghadapi kenyataan masa kini. Tentang kedewasaan, tentang keuangan, tentang pendidikan. Aah seandainya hidup bisa seringan dulu …

————————————————

25 Agustus 2014


Menggugat Ketidakamanatan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.011/2013

LAGI-LAGI saya akan membahas mengenai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013, karena ternyata permasalahan terkait PP 46 ini lebih kompleks dari yang terlihat. Di tengah rame-ramenya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang merupakan keputusan atas gugatan yang dilayangkan oleh kubu calon presiden nomor urut 1, saya juga akan mencoba menggugat ketidakamanatan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 107/PMK.011/2013. Namun gugatan saya tidak akan saya tujukan kepada Mahkamah Agung, hanya lewat tulisan ini belaka :p *sadar diri*

Setiap peraturan yang dikeluarkan pemerintah seharusnya ada cantolan hukumnya. Dari peraturan terendah (setingkat peraturan yang dikeluarkan oleh pejabat eselon I) seharusnya bisa dirunut sampai kepada peraturan tingginya (undang-undang) dan peraturan tertinggi (undang-undang dasar). Artinya, aturan yang dikeluarkan pemerintah tersebut benar merupakan aturan yang diamanatkan oleh undang-undang dan undang-undang dasar. Selama ini sering kita dengar berita gugatan terhadap peraturan tertentu. Biasanya dikarenakan aturan yang dikeluarkan pemerintah tidak bisa dirunut sampai kepada aturan tingginya (undang-undang), sehingga aturan tersebut dianggap bukan amanat undang-undang. Lalu bagaimana jika ada amanat yang diberikan oleh suatu peraturan, namun tidak dilaksanakan oleh aturan di bawahnya? Apa masih tetap bisa kita gugat? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Yang jelas, saya akan mencoba menggugatnya melalui tulisan ini.

Willem Koninjnenbelt (dalam Salim, 2012) mengatakan bahwa salah satu unsur penting gagasan negara yang berdasarkan atas hukum / negara hukum (rechsstaat) adalah pelaksanaan kekuasaan pemerintah harus berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh Undang-undang Dasar atau undang-undang yang diakui (wetmatigheid van bestuur). Yang artinya bahwa semua kewenangan untuk menjalankan pemerintahan atau perbuatan pemerintahan (rechsthandeling van overhead) yang diberikan kepada pemerintah harus berdasarkan undang-undang dasar atau undang-undang. Karena jika tidak, maka perbuatan pemerintahan tersebut dianggap tidak sah. Oleh karenanya akan ada tiga kemungkinan terkait hal tersebut :

a. Kewenangan pemerintahan langsung diberikan oleh pembentuk undang-undang kepada organ pemerintahan–disebut atribusi yaitu pemberian kewenangan menjalankan pemerintahan oleh pembentuk undang-undang kepada suatu organ pemerintahan

b. Kewenangan pemerintahan yang diberikan berdasarkan peraturan undang-undang dialihkan kepada suatu organ pemerintahan–disebut delegasi yaitu pelimpahan kewenangan oleh suatu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan yang lain

c. suatu kewenangan organ yang dalam pelaksanaannya diberikan kepada organ lain, namun tetap dijalankan atas nama organ yang memberi perintah–disebut mandat, yaitu suatu organ pemerintahan membiarkan kewenangannya dilaksanakan oleh organ lain atas namanya.

Karena kondisi di atas lah, akan muncul peraturan lain selain peraturan undang-undang, atau dikenal sebagai peraturan kebijakan, yang dalam bahasa hukumnya dikenal sebagai legislasi semu. Legislasi semu atau perundang-undangan semu adalah tata aturan oleh organ pemerintahan yang terkait tanpa memiliki dasar ketentuan undang-undang yang secara tegas memberikan kewenangan kepada organ tersebut.

Pasal 9 PP No 46 tahun 2013 mengatakan bahwa Ketentuan lebih lanjut mengenai penghitungan, penyetoran, dan pelaporan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dan kriteria beroperasi secara komersial diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Berdasarkan pasal tersebut pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 107/PMK.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Apabila kita baca secara teliti bunyi pasal 9 PP No 46 tahun 2013 tersebut, ditulis di sana …. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, yang mungkin artinya adalah akan dikeluarkan PMK baru untuk mengatur hal tersebut atau menggunakan PMK yang sudah pernah diterbitkan yang mengatur mengenai hal tersebut.

Pertanyaan pertama, apakah pendelegasian dari presiden melalui PP No 46 tahun 2013 di pasal 9 kepada Menteri Keuangan tersebut merupakan legislasi semu? Saya rasa bukan. Karena jelas bahwa Menteri Keuangan diberikan mandat untuk mengatur mengenai mengenai penghitungan, penyetoran, dan pelaporan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dan kriteria beroperasi secara komersial. Lalu, apa amanat tersebut dilaksanakan oleh Menteri Keuangan? Ya, sebagian saja. Memang penghitungan, penyetoran, dan pelaporan PPh-nya diatur di PMK tersebut, namun kriteria beroperasi secara komersial (entah sengaja atau tidak) luput, tidak diatur. Tidak ada satupun kata atau kalimat, baik yang tersurat maupun tersirat di PMK tersebut yang mengatur mengenai kriteria beroperasi secara komersial. 

Pertanyaan kedua, apa ada PMK yang sudah diterbitkan sebelum-sebelumnya yang mengatur mengenai kriteria beroperasi secara komersial? Jawaban untuk pertanyaan ini pun sama, nihil.

Pertanyaan ketiga, apakah keadaan ‘beroperasi secara komersial’ merupakan keadaan yang dapat dilihat secara kasat mata sehingga tidak perlu ditentukan kriterianya? Jika keadaan ‘beroperasi secara komersial’ merupakan kondisi yang mudah ditetapkan dan dapat dilihat secara kasat mata, kenapa PP No 46 tahun 2013 memberikan tugas kepada Menteri Keuangan untuk membuat kriterianya?

Apa ini kesengajaan? Atau memang Menteri Keuangan khilaf? Saya tidak tahu. Yang jelas, pada prakteknya susah menentukan kriteria beroperasi komersial sebuah perusahaan. Jika ia adalah perusahaan manufaktur, apakah saat mulai mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi bisa disebut beroperasi komersial? atau justru saat melakukan penjualan? Jika ia adalah perusahaan dagang, apakah saat membeli persediaan awal sudah disebut beroperasi komersial, atau justru saat melakukan penjualan pertama kali baru disebut beroperasi komersial? Jika ia adalah perusahaan jasa, apakah saat membeli peralatan untuk memberikan jasa sudah disebut beroperasi komersial, atau justru saat jasa itu dimanfaatkan? Jika memang susah menentukan kriteria beroperasi komersial, kenapa aturan beroperasi komersial muncul di PP 46 tahun 2013 tersebut? Lalu jika sudah terlanjur muncul dan penentuan kriterianya didelegasikan oleh perundangan kepada Menteri Keuangan, kenapa tidak dilaksanakan?

Mari kita lihat di legislasi semu di bawah PMK, mungkin diatur di Peraturan Direktur Jenderal Pajak maupun Surat Edarannya. Ternyata baik Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-32/PJ/2013 dan PER-37/PJ/2013 serta Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-42/PJ/2013 sama sekali tidak menyinggung mengenai kriteria beroperasi komersial. Padahal kriteria beroperasi secara komersial ini penting untuk ditentukan, mengingat :

- Tidak semua Wajib Pajak Badan yang memiliki penghasilan bruto di bawah 4,8 miliar rupiah (selanjutnya disebut Wajib Pajak) menghitung pajaknya dengan menggunakan PP Nomor 46 tahun 2013

- Wajib Pajak tersebut salah satunya adalah Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial dan Wajib Pajak badan yang sudah beroperasi secara komersial namun belum melewati jangka waktu satu tahun.

Jadi kriteria beroperasi secara komersial ini penting untuk menentukan suatu Wajib Pajak Badan menghitung pajaknya menggunakan PP 46 tahun 2013 atau tetap menggunakan tarif umum UU PPh. Dan ironisnya hal sepenting ini luput diatur oleh penyusun PMK maupun legislasi semu di bawahnya. Lalu siapa yang dibuat bingung? Wajib Pajak tentu saja.

Memang di lampiran PMK Nomor 107/PMK.011/2013 ada contoh kasus untuk WP yang baru beroperasi secara komersial. Namun contoh yang diberikan pun hanya untuk Wajib Pajak yang merupakan perusahaan manufaktur. Tidak diberikan contoh bagi Wajib Pajak yang bergerak di bidang usaha dagang, apalagi jasa yang susah menentukan kapan saat beroperasi komersialnya.

Atau jika kita mau berbaik sangka kepada Menteri Keuangan, mungkin saja aturan mengenai kriteria beroperasi secara komersial tersebut belum diterbitkan, masih draft dan belum disetujui oleh Menteri Keuangan. Mungkin saja. Semoga.

 

———— referensi

1) Makalah Hukum berjudul Legislasi Semu (Pseudowetgeving) oleh Zafrullah Salim, pejabat di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Makalah ini disampaikan dalam in house training Legal Drafting di Direktorat Jenderal Pajak pada tanggal 29 Oktober 2012

2) PP No 46 tahun 2013, PMK No 107/PMK.011/2013, Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-32/PJ/2013 dan PER-37/PJ/2013, serta Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-42/PJ/2013

3) Undang-undang nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan


Celotehan Malam (19)

What do yo do when you feel empty?

I never noticed what was there before

but now that it’s gone

I wonder how I can feel it back up again

I’d do anything to get that back

I used to not believe in fate

I thought it was kind of silly

because I believed in myself

I thought that I could do anything

as long as I worked hard enough

I guess I was wrong

 

—TP


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 445 other followers