Menghitung Biaya Kepatuhan Pajak

SALAH satu prinsip dalam pemungutan pajak adalah prinsip ekonomi, bahwa biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak dalam rangka melaksanakan kewajiban perpajakannya harus lebih rendah dari beban pajak yang ditanggungnya. Pertanyaannya, siapa yang peduli? Sebagai Wajib Pajak sendiri, pernahkah Bapak/Ibu menghitung berapa biaya yang dikeluarkan oleh Bapak/Ibu dalam rangka melaksanakan kewajiban perpajakan? Tulisan ini sepenuhnya hanya ilustrasi, namun semoga bisa memberikan gambaran mengenai berapa biaya kepatuhan yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak.

Tuan Andi adalah seorang sarjana pendidikan dengan spesialisasi bahasa inggris. Sebagai wujud bakti kepada desanya, Tuan Andi membuka lembaga kursus bahasa inggris di desanya. Dengan modal berupa satu unit ruko 3 lantai warisan dari bapaknya, Tuan Andi menggunakan ruko tersebut sebagai kantor serta ruang-ruang kelas. Tuan Andi mengajar sendiri siswa kursus.

A.
Sebagai warga negara yang baik Tuan Andi merasa harus memiliki NPWP. Oleh karena itu Tuan Andi, dengan menggunakan kendaraan pribadinya pergi ke KPP yang letaknya sekitar 20 km dari tempat tinggalnya. Dalam rangka pendaftaran NPWP ini Tuan Andi mencatat pengeluarannya sebagai berikut:

  • Bensin (pulang-pergi)  Rp50.000,-
  • Biaya fotokopi dokumen Rp2.000,-
  • JUMLAH Rp52.000,-

B.
Setelah memiliki NPWP, Tuan Andi harus melaporkan PPh Pasal 25 masa Januari. Untuk melaksanakan kewajiban ini, Tuan Andi mengeluarkan biaya sebagai berikut:

  • Bensin (pulang-pergi) Rp50.000,-
  • Biaya cetak SSP Rp2.000,-
  • JUMLAH Rp52.000,-
  • PPh Pasal 25 yang dibayar Tuan Andi sebesar Rp10.000,-

C.
Pada bulan Februari, untuk menghemat pengeluaran, Tuan Andi mengirimkan SPT nya menggunakan jasa PT Pos Indonesia. Untuk pelaporan ini Tuan Andi mencatat:

  • Bensin ke kantor pos (jarak 3 km) Rp5.000,-
  • Biaya cetak SSP  serta ongkos pengiriman Rp15.000,-
  • JUMLAH Rp20.000,-
  • PPh Pasal 25 yang dibayar Tuan Andi sebesar Rp10.000,-

Selanjutnya Tuan Andi melaporkan SPT-nya dengan mengirimkannya melalui PT Pos Indonesia

D.
Pada bulan Februari tahun berikutnya Tuan Andi berniat melaporkan SPT Tahunan PPh-nya. Kali ini Tuan Andi kembali menggunakan jasa PT Pos Indonesia, dengan rincian sebagai berikut:

  • Bensin ke kantor pos (jarak 3 km) Rp5.000,-
  • Biaya cetak SSP  serta ongkos pengiriman Rp15.000,-
  • JUMLAH Rp20.000,-
  • PPh Pasal 29 yang dibayar Tuan Andi sebesar Rp50.000,-

Sehingga total pajak-pajak yang dibayar dan biaya yang dikeluarkan Tuan Andi dalam rangka melaksanakan kewajiban perpajakannya dapat disajikan sebagai berikut:

Masa Pajak/Uraian Pajak-Pajak Yang Dibayar (Rp) Biaya Kepatuhan (Rp)
Pendaftaran NPWP 0,- 52.000,-
Januari 10.000,- 52.000,-
Februari 10.000,- 20.000,-
Maret 10.000,- 20.000,-
April 10.000,- 20.000,-
Mei 10.000,- 20.000,-
Juni 10.000,- 20.000,-
Juli 10.000,- 20.000,-
Agustus 10.000,- 20.000,-
September 10.000,- 20.000,-
Oktober 10.000,- 20.000,-
Nopember 10.000,- 20.000,-
Desember 10.000,- 20.000,-
SPT Tahunan 50.000,- 20.000,-
Jumlah 170.000,- 344.000,-

Biaya kepatuhan yang dikeluarkan Tuan Andi lebih besar dibandingkan pajak yang harus dibayar oleh Tuan Andi, sehingga dalam hal ini prinsip ekonomis dalam kepatuhan pajak tidak terpenuhi.

Di tempat terpisah.
Tuan Brahmsy merupakan tetangga Tuan Andi dan melakukan usaha di tempat yang sama, serta terdaftar di KPP yang sama. Tuan Brahmsy tidak membuka tempat kursus bahasa inggris seperti Tuan Andi, tetapi membuka bengkel, karena Tuan Brahmsy menyenangi dunia otomotif sejak lama. Tuan Brahmsy telah lama mengetahui bahwa DJP memiliki beraneka macam layanan online dalam rangka melaksanakan kewajiban perpajakan. Tuan Brahmsy mencatat pengeluaran-pengeluaran terkait pajaknya sebagai berikut:

A.
Pendaftaran NPWP dengan menggunakan e-Reg hanya menghabiskan biaya kuota internet sebesar Rp10.000,-

B.
PPh Final Pasal 4 ayat (2) sebesar 1% (PP 46/2013) yang terutang setiap bulan tidak perlu dilaporkan ke KPP karena cukup dibayar saja. Sehingga setiap bulannya cukup mengeluarkan ongkos untuk:

  • Bensin ke kantor pos persepsi (jarak 3 km) Rp5.000,-
  • Biaya cetak SSP Rp2.000,-
  • JUMLAH Rp7.000,-
  • ditambah pajak-pajak yang harus dibayar

C.
Untuk pelaporan SPT Tahunan PPh OP, Tuan Brahmsy menggunakan e-Filing, sehingga cukup membayar biaya kuota internet sebesar Rp10.000,- serta PPh kurang bayarnya sebesar Rp50.000

Ringkasan pajak-pajak dan ongkos yang dikeluarkan Tuan Brahmsy ditampilkan pada tabel berikut ini:

Masa Pajak/Uraian Pajak-Pajak Yang Dibayar (Rp) Biaya Kepatuhan (Rp)
Pendaftaran NPWP 0,- 10.000,-
Januari 10.000,- 7.000,-
Februari 11.000,- 7.000,-
Maret 9.000,- 7.000,-
April 7.500,- 7.000,-
Mei 7.500,- 7.000,-
Juni 15.000,- 7.000,-
Juli 16.000,- 7.000,-
Agustus 25.000,- 7.000,-
September 40.000,- 7.000,-
Oktober 5.000,- 7.000,-
Nopember 24.000,- 7.000,-
Desember 35.000,- 7.000,-
SPT Tahunan 50.000,- 10.000,-
Jumlah 255.000,- 104.000,-

Biaya kepatuhan yang dikeluarkan oleh Tuan Brahmsy lebih sedikit dibandingkan pajak-pajak yang harus dibayar. Sehingga dalam hal ini prinsip ekonomis terpenuhi.

Berdasarkan hal-hal di atas, dapat kita simpulkan:

  • Pendaftaran NPWP dan pelaporan maupun pembayaran online yang disediakan oleh DJP merupakan sarana agar Wajib Pajak tidak terlalu besar mengeluarkan biaya dalam pelaksanaan kewajiban perpajakannya
  • pengiriman SPT menggunakan jasa PT Pos Indonesia/Perusahaan jasa kurir juga memiliki maksud dan tujuan yang sama.

Yuk kita manfaatkan pendaftaran, pelaporan, dan pembayaran secara online melalui djponline.pajak.go.id.

 

PNS Wajib Lapor SPT Melalui e-Filing

efiling_0_02

LANGKAH Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpanrb) yang menerbitkan Surat Edaran nomor 8 tahun 2015 tentang Kewajiban Penyampaian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi oleh ASN/PNS, Anggota TNI/POLRI melalui e-Filing perlu kita apresiasi. Penerbitan SE tersebut dalam tentu saja dalam rangka meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi, khususnya ASN/PNS, Anggota TNI/POLRI dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, yaitu menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi tahun 2015 yang akan jatuh tempo pada 31 Maret 2016 ini.

Beberapa poin yang diatur dalam SE tersebut diantaranya:

  • ASN/TNI/Polri wajib menaati dan mematuhi segala Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang berlaku, yaitu memiliki NPWP, membayar pajak, mengisi dan menyampaikan SPT Tahunan PPh dengan benar, lengkap, jelas dan tepat waktu.
  • ASN/TNI/Polri melaporkan SPT Tahunan PPh melalui e-Filing. Informasi terkait tata cara pelaporan SPT Tahunan PPh melalui e-Filing, dapat diperoleh melalui situs resmi DJP, menghubungi Kring Pajak 1500200, dan/atau menghubungi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdekat.
  • Bendahara Pemerintah wajib menerbitkan bukti pemotongan PPh Pasal 21 (Fomulir 1721-A2) paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun kalender berakhir. Sebagai contoh, untuk Tahun Pajak 2015, maka bukti potong agar diterbitkan paling lambat tanggal 31 Januari 2016.
  • Setiap pimpinan unit kerja melakukan koordinasi dengan unit kerja DJP tempat bendahara pemerintah terdaftar sebagai Wajib Pajak sehingga pelaksanaan sosialisasi pelaporan SPT Tahunan PPh melalui e-Filing dapat berjalan dengan lancar.
  • ASN/TNI/Polri, Bendahara Pemerintah, dan Pejabat yang tidak mentaati peraturan perundang-undangan perpajakan dapat dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
  • Setiap Instansi Pemerintah dihimbau untuk berkoordinasi dengan unit kerja Direktorat Jenderal Pajak untuk pendaftaran e-Filing dan sosialisasi pengisian SPT Tahunan PPh melalui e-Filing;
  • Setiap pimpinan unit Direktorat Jenderal Pajak agar memfasilitasi permohonan e-FIN dari Kementerian/Lembaga/Instansi Pemerintah Daerah, sekaligus memberikan sosialisasi pemanfaatan e-Filing.

SE tersebut disampaikan oleh Menpanrb kepada para pimpinan lembaga negara dengan surat nomor B/4771/M.PAN-RB/12/2015 tanggal 31 Desember 2015. Berdasarkan SE dan surat tersebut, maka:

  1. Mulai tahun pajak 2015, seluruh ASN/PNS dan Anggota TNI/POLRI wajib melaporkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadinya melalui e-Filing;
  2. Untuk menyampaikan SPT melalui e-Filing, ASN/PNS dan Anggota TNI/POLRI dapat menyampaikannya melalui website DJP (djponline.pajak.go.id) atau web penyedia SPT Elektronik
  3. Jenis SPT yang dapat disampaikan melalui web djponline.pajak.go.id diantaranya:
    – SPT Tahunan PPh Orang Pribadi 1770 Formulir Tahun 2014
    – SPT Tahunan PPh Orang Pribadi 1770 S dan 1770 SS
  4. SPT juga dapat disampaikan melalui perusahaan penyedia layanan elektronik yaitu:
    – PT. Sarana Prima Telematika di alamat http://www.spt.co.id
    – PT. Mitra Pajakku di alamat http://www.pajakku.com
    – PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk di alamat https://eform.bri.co.id/efiling
    – PT. Achilles Advanced Systems di alamat http://www.online-pajak.com
  5. Selain itu ASN/PNS dan Anggota TNI/POLRI juga dapat menyampaikan SPT-nya melalui aplikasi Android yang diperuntukkan bagi pelaporan SPT Tahunan PPh orang pribadi 1770 SS

Semoga bermanfaat.

Gambar dari sini.

 

Patuh Pajak: Mudah

DI jaman segala sesuatu dilakukan secara daring/online seperti sekarang ini, sepertinya sudah tidak jaman lagi melakukan sesuatu yang agak merepotkan dengan menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Meski tidak ada kompensasi yang didapat langsung oleh Wajib Pajak, pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh para Wajib Pajak sebisa mungkin harus membuat nyaman Wajib Pajak. Karena salah satu prinsip dalam pemungutan pajak adalah prinsip kenyamanan.

Bayangkan saja jika untuk mendaftar NPWP saja Wajib Pajak harus mendatangi kantor pajak yang lokasinya ratusan kilometer jauhnya dari tempat tinggal/domisili Wajib Pajak, misalnya, sebagai akibat jumlah kantor pajak yang hanya ada 1 (satu) kantor untuk setiap provinsi. Bisa-bisa, tidak ada satu pun Wajib Pajak yang mau membayar pajak, hehe. Oleh karena itu prinsip kenyamanan dan efisiensi menjadi perhatian tersendiri dari otoritas pajak (DJP). Nyaman bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya, serta efisien: jangan sampai biaya untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan tersebut lebih besar dari pajak yang dibayar.

Ada masanya kantor pajak—dulu namanya kantor inspeksi pajak—melakukan administrasi secara manual: menggunakan buku-buku tabelaris yang besar. Pembayaran dan pelaporan pajak dicatat secara manual, serta sulit diawasi. Namun DJP sudah meninggalkan masa-masa itu. Sekarang teknologi informasi dikedepankan dalam rangka pengawasan Wajib Pajak yang lebih baik.

Dalam rangka pelayanan kepada Wajib Pajak, sejumlah besar infrastruktur terkait teknologi informasi telah disiapkan. Tidak hanya dalam pelaporan, tetapi pada setiap aspek/hal yang penting yang harus dilakukan oleh Wajib Pajak.

Pendaftaran NPWP dan/atau Pengukuhan PKP

Dulu untuk mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan/atau melaporkan diri untuk dikukuhkan sebagai PKP, Wajib Pajak harus datang ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi domisili/lokasi Wajib Pajak. Tentu saja merepotkan. Berikut sejarah ketentuan ini:

  • Pada mulanya Wajib Pajak harus datang ke KPP yang lokasinya sesuai domisili Wajib Pajak, yang artinya harus sesuai dengan alamat yang tertera pada KTP Wajib Pajak. Jika Tuan Andri ber-KTP Tegal sementara bekerja di Jakarta, untuk mendapatkan NPWP Tuan Andri harus pulang ke Tegal yang buka hanya di hari kerja, tidak buka di hari libur.
  • Karena dianggap merepotkan, ketentuan itu kemudian sedikit diubah dengan cara Tuan Andri boleh mendaftar di KPP terdekat yang lokasinya sesuai dengan tempat tinggal yang sebenarnya. Meski ber-KTP Tegal namun tinggal di daerah Jatinegara di Jakarta, Tuan Andri boleh mendaftar NPWP di Jakarta yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Tuan Andri.
  • Dan untuk menambah kenyamanan Wajib Pajak dalam mendaftarkan NPWP dan/atau melaporkan diri untuk dikukuhkan sebagai PKP, kini tersedia layanan registrasi elektronik (e-Reg). Meski infrastruktur yang ada belum bisa dibilang memadai, namun penyediaan layanan ini layak diapresiasi. Bahwa DJP mengedepankan prinsip kenyamanan dan efisiensi bagi Wajib Pajak: tanpa harus pulang dari Jakarta ke Tegal, hehe, cukup duduk manis dari belakang meja, klak klik, upload, menerima email konfirmasi, dan NPWP akan dikirimkan ke Wajib Pajak.

Membayar Pajak

Sejarah fasilitas dan kemudahan dalam pembayaran pajak juga memiliki cerita tersendiri. Dulu, tidak semua bank merupakan bank persepsi, sehingga Wajib Pajak hanya bisa membayar di bank tertentu saja dan kantor pos. Ditambah, untuk membayar pajak Wajib Pajak harus mengisi formulir SSP yang harus carbonize, beberapa bank tidak mau menerima SSP yang non-carbonize karena merepotkan saat tanda tangan dan stempel. Masalah yang lain, belum semua bank online, sehingga satu-satunya alat validasi pembayaran hanyalah tanda tangan petugas penerima dan stempel bank. Tanpa NTPN.

SSP yang terdiri dari 5 lembar dikirimkan oleh bank sesuai peruntukan. Lembar ke 1 dan 3 diserahkan kepada Wajib Pajak. Lembar ke 1 disimpan oleh Wajib Pajak sebagai arsip, lembar ke 3 dilaporkan ke KPP sebagai SPT atau lampiran SPT. Sedangkan SSP lembar ke 2 dan 4 dikirimkan ke KPPN, untuk selanjutnya lembar ke 2 dikirimkan oleh KPPN ke KPP.

Oleh KPP SSP lembar ke-2 tersebut direkap, dihitung dan diadministrasikan guna pelaporan penerimaan Negara melalui Tata Usaha Penerimaan dan Restitusi Pajak (TUPRP).

Lalu, semakin banyak bank yang bermitra dengan Kementerian Keuangan sebagai bank persepsi, menerima pembayaran pajak dan Kementerian Keuangan juga mulai membenahi sistem dan administrasi penerimaan Negara. Pembayaran pajak bisa dilakukan tanpa harus dengan mengisi SSP, karena SSP saat ini hanya salah satu bukti penerimaan Negara. Wajib Pajak bisa membayar pajak dari kantor atau dari rumah tanpa harus beranjak ke bank/kantor pos: e-billing. Saat ini bahkan sudah dikembangkan mini-ATM dengan menggunakan mesin EDC untuk semakin mempermudah dan memfasilitasi Wajib Pajak dalam pembayaran pajak.

Pelaporan Pajak

Sama halnya dengan pendaftaran NPWP, pelaporan pajak juga mengalami cerita evolusi. Dulu adalah hal yang biasa Wajib Pajak melaporkan SPT Tahunannya dengan membawa setumpuk dokumen yang tingginya bisa ½ meter sendiri. Tentu saja itu adalah formulir SPT dan lampirannya: cukup merepotkan.

Selain mengantri dan membawa dokumen yang berat, KPP juga harus merekam dokumen fisik tersebut menjadi dokumen digital: merepotkan juga.

Lalu DJP mengembangkan e-SPT: pelaporan SPT dalam dokumen elektronik. Wajib Pajak cukup membawa file softcopy hasil rekaman di e-SPT, kemudian diupload ke sistem informasi DJP: lumayan praktis.

Dan saat ini, DJP telah mengembangkan e-filing, pelaporan SPT dengan memanfaatkan koneksi internet. Wajib Pajak tidak perlu datang ke KPP, karena pelaporan tetap bisa dilakukan dari belakang meja kerja. Mudah, murah dan efisien.

Harus kita akui bahwa banyak hal telah dilakukan dan dikerjakan oleh DJP. Tentu saja tujuannya satu, optimalisasi penerimaan Negara melalui pajak. Dan sebagai masyarakat kita perlu mengapresiasi. Selamat untuk DJP, selamat untuk para Wajib Pajak yang telah membangun Negara.

[Resensi] The Various Flavours of Coffee-Anthony Capella

3230888

FIKSI bagi saya tetaplah fiksi, seilmiah apapun fiksi itu dibuat. Saya membaca dan menonton film fiksi sains, beberapa diantaranya adalah fiksi sejarah. Buku-buku Dan Brown banyak memberikan saya gambaran mengenai bagaimana seseorang terinspirasi secara fiksi dari catatan dan kejadian sejarah: bahkan dari kitab suci. Dulu saat pertama kali mengenal fiksi dengan jenis ini saya sangat takjub, meskipun sebenarnya itu adalah hal yang biasa. Sebagai seorang praktisi pajak, saya pernah terpikir untuk menulis fiksi pajak, yang dari namanya saja sepertinya sudah tidak menarik, haha. 

Anthony Capella menulis The Various Flavours of Coffee dengan sangat apik, bahkan bisa dibilang sangat apik. Karena Capella mengkombinasikan banyak (atau bahkan sangat banyak) disiplin ilmu dalam novel ini. Sesuai dengan judulnya, Capella mengkombinasikan ilmu mengenai kopi–terutama mengenai cita rasa, bau-bauan dan warna–dengan ilmu akuntansi keuangan, kedokteran, sastra, ekonomi, pajak, marketing, politik, sejarah Inggris-Amerika-Brasil, ilmu biologi, fisika, bahkan takhayul pedalaman Afrika dan seksologi. Benar-benar buku yang sangat lengkap.

Saya baru benar-benar memahami arti kata ‘sinestisia’ di buku ini. Bagaimana rasa dan bau bertukar tempat dan dijadikan pengibaratan sesuatu. Aah saya sudah jatuh cinta pada novel ini bahkan sejak saya membelinya pertama kali di pameran buku murah di sebuah mal di Jakarta.

Adalah Robert Wallis, seorang penyair pengangguran yang masih meminta uang dari ayahnya untuk membiayai hidpnya. Sebagai seorang penganggur, Wallis senang nongkrong di cafe sekedar untuk meminum kopi. Gara-gara pertengkaran kecilnya dengan pelayan kafe (saat itu Wallis mengatakan bahwa kopi yang disajikan untuknya berbau seperti karat), Wallis dipekerjakan oleh Pinker, pemilik perusahaan besar Pinker’s yang bergerak dalam perdagangan kopi. Wallis diminta Pinker untuk membuat sebuah pedoman dalam menikmati kopi. Mulai dari mengidentifikasi aroma, rasa, dan ciri khas masing-masing kopi, hingga menuliskan karakteristiknya. Wallis diasisteni oleh anak Pinker sendiri: Emily. Maka tersusunlah pedoman Wallis-Pinker yang dicetak dan dijadikan acuan dalam bisnis kopi. Meski jauh dari profesinya sebagai penyair, Wallis menikmati pekerjaannya dari Pinker karena tentu saja karena Wallis bisa berdekatan dengan Emily.

Wallis yang nakal, banyak menghabiskan penghasilannya untuk pelacuran. Mencintai Emily adalah satu hal, tetapi bermain seks dengan para pelacur merupakan kenikmatan tersendiri bagi Wallis. Singkat cerita, Robert berhasrat menikahi Emily, dan untuk meloloskan keinginan ini, Pinker memperbolehkan Wallis mengawini Emily: dengan syarat mau melakukan perjalanan ke Afrika selama 4-5 tahun dan menanam kebun kopi di pedalaman Afrika.

Perjalanan ke pedalaman Afrika ternyata menjadi cerita tersendiri yang memakan lebih dari separuh dari cerita di novel ini. Wallis bersama-sama dengan Hector–yang di kemudian hari ternyata diketahui sebagai mantan kekasih Emily–bertemu dengan banyak orang, salah satunya Ibrahim Bey yang mengaku sebagai pemasok kopi untuk Pinker’s namun tak lebih hanyalah penyair yang juga seorang penipu dan pemelet (orang yang melakukan pelet kepada orang lain, dan Wallis menjadi salah satu korbannya). Wallis bertemu dengan suku pedalaman Afrika yang para wanita-nya bebas berhubungan seksual dengan siapa saja, dan mereka memakan kopi dari kopi yang tumbuh secara liar. Wallis bersama Hector bermaksud membudidayakan kopi di tengah-tengah suku tersebut.

Adalah Fikre, seorang gadis kulit hitam, yang mempesona. Dan mempermainkan Wallis dengan pelet cintanya. Wallis dan Pinker yang seorang budak harus melakukan perbuatan mesumnya secara diam-diam, menghindari kecurigaan majikannya: Bey yang mengaku bahwa Fikre adalah budak yang dibeli dengan harga sangat mahal karena keperawanannya. Ternyata Wallis salah dalam hal ini, karena dia hanya diguna-guna dan ditipu oleh Bey yang bersekongkol dengan Pinker.

Emily adalah seorang gadis yang memperjuangkan kebebasan bagi kaum wanita di Inggris kala itu. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang wanita yang sama-sama membayar pajak kepada negara, tidak diberikan hak suara dalam politik. Emily adalah tokoh pergerakan wanita kala itu, dan kepadanyalah Wallis jatuh cinta.

Kisah cinta antara Wallis dan Emily yang jatuh bangun menjadi fokus utama cerita novel ini. Dan untuk mempertebal benang merahnya Capella menggabungkan dengan ilmu tentang kopi: bagaimana Wallis menyusun Pedoman, ilmu tentang akuntansi: bagaimana Pinker’s menjadi pelopor dalam penjualan obligasi dan melakukan hedging atas kontrak penjualan kopi di masa depan. Juga ilmu tentang kedokteran: bagaimana Emily harus berjuang mengobati penyakit histeria-nya, ilmu tentang politik, bursa efek, dst. Dan di beberapa bagian di novel ini diselipi dengan cerita erotis Wallis bercinta dengan pelacur dan Fikre.

Saya menyebutnya sebagai novel super lengkap. Dan terus terang saya terkesan. Jangan lewatkan novel ini ya!

[Sinopsis] The Boy

the-boy-movie

SEBENARNYA saya bukan orang yang hobi nonton film horor, karena saya tipikal orang yang penakut, hehehe, cuma karena ‘dipaksa’ istri saja saya mau nonton film-film dengan genre horor, seperti The Forest dan The Boy.

Adalah Greta, seorang gadis yang melarikan diri dari Amerika ke Inggris. Karena membutuhkan uang untuk ‘memulai lagi’ hidupnya setelah hancur dengan kekasihnya, Cole, Greta melamar menjadi pengasuh anak pada sebuah keluarga di Inggris. Sebuah keluarga hanya terdiri dari seorang kakek, seorang nenek dan seorang anak: Brahms yang secara fisik berbentuk boneka.

Meskipun hanya sebuah boneka, Brahmsy–panggilan Greta untuk Brahms–adalah boneka yang hidup. 20 tahun yang lalu Brahms meninggal karena kebakaran di rumahnya. Meskipun mati secara fisik, Brahms masih hidup dan tinggal di rumah tua yang seram itu. Dan kedua orang tuanya mengejawantahkan Brahms dalam bentuk boneka.

Setiap hari Greta harus merawat, memandikan, mengganti baju, mendengarkan musik, bahkan memberi makan Brahms. Banyak peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh Greta. Karena sekali saja Greta melanggar, Brahms akan meneror Greta: menguncinya di loteng, mencuri gaun dan perhiasannya, dan menerornya lewat suara-suara dan telepon.

Masalah datang ketika orang tua Brahms (kakek dan nenek itu) harus pergi meninggalkan Greta berdua saja dengan Brahms: untuk ‘berlibur’. Berlibur yang mereka maksud adalah berlibur dari kehidupan untuk selama-lamanya, karena mereka berdua kemudian bunuh diri dengan motif yang hanya bisa ditebak-tebak oleh penonton: tidak tahan dengan perilaku Brahms.

Misteri Brahms satu persatu mulai terurai. Greta–dengan bantuan Malcolm–akhirnya berhasil lolos dari teror Brahms: seorang anak kecil dalam tubuh manusia dewasa yang sebenarnya tidak pernah meninggal, karena dia masih hidup secara fisik dan ada di rumah itu.

Di akhir cerita, saya menjadi paham dengan ‘Greta harus membacakan puisi untuk Brahms dengan suara yang lantang’ atau ‘Greta harus mendengarkan musik klasik dengan suara yang lebih keras dari biasanya’: karena Brahms memang mendengarkan dan melihat semuanya.

Selamat menonton. :)

[Resensi] Fire by Kristin Cashore

firegramediaforblogger

“KAU menyia-nyiakan sesuatu yang kau miliki”, kata Clara padanya di suatu hari, hampir jengkel. “Sesuatu yang hanya bisa kami bayangkan untuk memilikinya. Penyia-nyiaan adalah kejahatan.”

Saya secara tidak sengaja membeli novel ini. Sore itu saya diminta mengantar istri saya ke suatu acara, dan sambil menunggu istri saya selesai acara tersebut, saya berjalan-jalan di sebuah mall. Sepertinya mata saya langsung berbinar sewaktu keluar dari parkir motor dan mendapati ada bazaar buku di pelataran parkir tersebut. Banyak buku-buku yang tadinya mahal dijual hanya dengan harga Rp30 ribu-an, salah satunya buku Fire ini.

Pernah nggak kita membayangkan rasanya menjadi monster? Bukan, bukan monster dengan badan raksasa, muka jelek dan kekuatan super, bukan. Fire adalah monster yang berbeda, cantik jelita, anggun, dengan rambut berkilau berwarna jingga. Fire sama seperti manusia pada umumnya, karena Fire adalah monster manusia. Satu-satunya yang membedakannya dengan manusia adalah warna rambut dan kekuatannya membaca benak orang lain. Ya, Fire adalah monster manusia pembaca benak.

Pada zaman itu, hidup berdampingan dan saling memangsa: manusia dan monster. Jenis monster pun beraneka macam, monster hewan dan monster manusia. Fire adalah satu-satunya monster manusia yang masih hidup pada zaman itu. Monster saling memangsa, sesama monster hewan, maupun monster hewan memangsa manusia, dan sebaliknya, karena monster manusia juga memakan monster hewan. Sementara manusia biasa juga memangsa monster. Meskipun monster, Fire adalah keturunan keluarga keraajaan. Ayahnya Cansrell adalah peselingkuh yang tidur dengan semua orang, salah satunya ibunya Fire. Cansrell juga monster manusia. Biasanya Cansrell membunuh semua anaknya yang perempuan. Namun tidak dengan Fire. Fire adalah pengecualian bagi ayahnya.

Fire diasingkan di suatu tempat di utara oleh ayahnya. Sesekali ayahnya menengoknya. Fire belajar mengendalikan benak orang lain dari ayahnya. Fire pula yang membunuh ayahnya. Fire hidup dengan Brocker dan Archer. Archer mencintai Fire dengan sepenuh jiwa hingga cinta itu pada akhirnya membuatnya harus tewas di tangah ayah kandungnya yang tidak pernah diketahui Archer.

Oleh keluarga raja, Fire diminta datang ke kerajaan untuk membaca benak para mata-mata. Waktu itu terjadi perang antara tiga kerajaan. Raja-raja mereka yang bersaudara: Nash, Mydogg dan Murgda saling bertikai berebut kekuasaan. Fire membantu Kerajaan Raja Nash untuk memenangkan perang.

Dan di kerajaan ini Fire bertemu Brigan, panglima perang yang dingin, benaknya tidak dapat ditembus dengan usaha sekeras apapun. Awalnya Fire membenci Brigan, namun lama-lama Fire sadar bahwa Fire mencintai Brigan.

Meski lebih banyak dialognya daripada aksi perangnya, novel ini lumayan bagus. Membuat kita yang membaca semakin penasaran membacanya. Salah satu hal yang menarik saya membeli novel ini adalah, saat membaca resensi di bagian belakang buku, saya membaca ada nama saya tertulis di novel ini :D

Lalu, apakah Fire berhasil membantu Nash dan Brigan memenangkan perang? Bagaimana rasanya membaca benak-benak orang yang kesakitan dan hampir mati? Bagaimana rasanya membaca benak orang yang kita cintai? Novel ini siap menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Semoga bermanfaat. :)

Gambar dari sini.

 

Randomisasi #2

JUMAT sore, sembari siap-siap pulang kantor, saya iseng memberitahukan salah satu hobi (kalau ini bisa disebut hobi) saya ke teman-teman, bahwa saya senang membaca buku saat sedang nongkrong di toilet, baik di kantor maupun di rumah. Ya, maksud dari kata nongkrong tentu saja adalah buang air besar atau pup :DYang membuat saya sedikit terkejut, ternyata teman-teman saya merespon positif. Maksudnya adalah, dua dari tiga orang teman mengatakan bahwa mereka juga melakukan hal yang sama: senang membaca di toilet, entah itu buku, lini masa, maupun sekedar membaca berita lewat gadget. Pembicaraan sore itu mengantarkan saya pada satu kesimpulan: ternyata saya punya banyak teman, hahaha. 

Saya sendiri lebih senang membaca buku saat di toilet daripada membaca berita atau linimasa menggunakan handphone, takut jatuh ke air, hehe, meskipun sesekali juga saya melakukan hal itu kalau tidak ada buku yang bisa saya baca. Membaca buku di toilet membuat saya punya kesibukan lain. Saya tidak suka berdiam diri tanpa melakukan apapun, hehe. Membaca membuat pikiran saya teralihkan dari bau toilet, sempitnya toilet (saya takut ruangan sempit), kotornya toilet, dan hal semacamnya. Semakin nyaman sebuah toilet, saya akan semakin lama berada di toilet sambil membaca buku. Saat membaca novel, kadang saya lebih merasakan jalannya cerita saat saya membaca di toilet daripada di meja baca.

Selain toilet, kasur menjadi tempat favorit saya yang lain. Saya senang membaca buku sebelum tidur, sambil setengah berbaring, atau kadang juga sambil berbaring. Meski sering diprotes istri, saya tetap senang melakukannya, kebiasaan lama, hehe. Meski hanya satu atau tiga lembar, kadang saya selalu menyempatkan diri membaca sebelum tidur. Alasan utamanya sih, biasanya kalau sudah bosan membaca saya menjadi mengantuk, meski kadang novel yang saya baca bukannya membuat saya bosan, malah membuat saya ingin membaca terus menerus. Alhasil, saya malah terlambat tidur, hehe.

Saat masih SMA, saya harus naik angkutan umum dari rumah ke sekolah. Angkutan umumnya berupa bus 3/4 atau kami biasa menyebutnya elf. Tempat favorit saya adalah pojok belakang elf. Pojok belakang elf memberi suasana baca tersendiri bagi saya. Saya senang sekali menikmati pagi saat berangkat sekolah atau sore saat pulang sekolah, duduk di pojok belakang elf dan membaca buku atau novel. Sinar matahari mengiringi momen tersebut, sambil sesekali saya melihat pemandangan di luar elf. Sesekali hujan juga mengiringi momen indah saya membaca buku. Dan saya menikmati 45 menit perjalanan elf tersebut hanya dengan membayar Rp500, meski kemudian harus naik menjadi Rp1000 dan Rp1500 gara-gara kenaikan BBM.

Di samping kiri rumah ibu saya terdapat bentangan sawah, beberapa dimiliki oleh ayah saya sendiri. Di sawah ayah saya tersebut, berdiri gubuk kecil tempat para pekerja beristirahat, atau tempat makan saat ibu saya mengantarkan kiriman makanan ke sawah. Saat pulang sekolah, biasanya saya membaca buku di gubuk itu, atau kadang sambil mengerjakan PR dari sekolah. Membaca di tengah gubuk, ditemani semilir angin sawah dan sesekali kicau burung atau kokok ayam, adalah pengalaman membaca yang kadang saya rindukan.

Itu adalah beberapa tempat favorit saya membaca buku, kalau Anda?